SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika https://sttaletheia.ac.id/e-journal/index.php/solagratia <p><strong>SOLA GRATIA: </strong>Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah:</p><ol><li>Teologi Biblikal </li><li>Teologi Pastoral</li><li>Teologi Kontemporer</li></ol><p><strong>SOLA GRATIA </strong>menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh <em>reviewer</em> yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.</p><p><strong>SOLA GRATIA </strong>terbit dua kali dalam satu tahun, Januari dan Juli, serta telah diindeks pada:</p><ol><li><a href="https://scholar.google.co.id/citations?hl=en&amp;authuser=2&amp;user=J5AP2FgAAAAJ" target="_blank">Google Scholar</a></li><li>PKP Index</li><li>One Search</li></ol><div style="display: none;"><a href="https://ancolbeachcity.com/halaman/concert-hall.html" rel="noopener noreferrer">pistol4d</a> <a href="https://ancolbeachcity.com/halaman/concert-hall.html" rel="noopener noreferrer">slot maxwin</a></div> Sekolah Tinggi Teologi Aletheia en-US SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2723-2786 ASHES, POTSHERDS, AND GRIEF: A BIBLICAL STUDY OF THE SYMBOL OF SUFFERING IN JOB 2:8 https://sttaletheia.ac.id/e-journal/index.php/solagratia/article/view/416 <p><em>This article explores the symbols of suffering in Job 2:8, namely ashes, potsherds, and grief as expressions of human suffering. The study aims to analyze the theological meaning of these symbols within the context of Job’s suffering and their implications for understanding God’s justice and human experience of suffering. The method used is a qualitative biblical exposition with a literature study approach, examining the original Hebrew text and its historical-cultural background. The findings show that ashes and potsherds function as tangible signs of sorrow and brokenness, while grief represents the deep emotional experience of suffering. Overall, these symbols convey a profound theological message about the human condition and God’s presence amid suffering. This article concludes that the symbolism in Job 2:8 invites readers to face suffering with honesty and faith, recognizing that suffering is part of the relationship between God and humanity that shapes spiritual resilience in hope.</em><em></em></p> Frazier Nari Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-02-04 2026-02-04 6 2 10.47596/sg.v6i2.416 PARADIGMA KEPEMIMPINAN DANIEL BAGI PELAYANAN PUBLIK KRISTEN KONTEMPORER https://sttaletheia.ac.id/e-journal/index.php/solagratia/article/view/406 <em>This study departs from the critical relevance of the life narrative of Daniel in the Book of Daniel as a paradigmatic expression of contextual leadership ethics for Christians involved in contemporary public service. In the present social milieu, Christians frequently face tensions between upholding the integrity of their faith and fulfilling responsibilities within a complex public sphere. The purpose of this research is to conduct a critical examination of the ethical values embodied in Daniel’s leadership and to evaluate their applicability for constructing a model of public leadership rooted in Christian faith. Through a qualitative approach employing textual analysis of the Book of Daniel, the study contributes to scholarship by formulating principles of Christian ethical leadership derived from Scripture and attuned to today’s socio-political realities. The findings not only reaffirm Daniel’s steadfast faith, moral integrity, and courage but also articulate a conceptual framework that may serve as a strategic reference for developing Christian leadership ethics in the modern public domain.</em> Ronald Michael Manoach Marciano Antaricksawan Waani Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-01-30 2026-01-30 6 2 10.47596/sg.v6i2.406 OTORITAS ALKITAB DALAM TEOLOGI ANGLIKAN: SOLA SCRIPTURA ATAU PRIMA SCRIPTURA? https://sttaletheia.ac.id/e-journal/index.php/solagratia/article/view/437 <p>Gereja Anglikan memiliki pendekatan khas terhadap otoritas Kitab Suci yang berada di tengah antara tradisi Reformasi Protestan dan warisan historis Katolik. Perdebatan teologis sering muncul tentang apakah Anglikan lebih dekat dengan konsep <em>Sola Scriptura</em> yang menekankan Alkitab sebagai satu-satunya otoritas iman atau <em>Prima Scriptura</em>, yang menempatkan Kitab Suci sebagai otoritas utama tetapi tetap menghargai Tradisi Gereja dan akal budi. Melalui kajian dokumen resmi seperti <em>The Thirty-Nine Articles</em> dan <em>Book of Common Prayer</em>, serta pemikiran teolog Anglikan klasik dan kontemporer, penelitian ini berupaya menjelaskan posisi khas Anglikanisme dalam memahami otoritas Kitab Suci. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur, penelitian ini menganalisis sumber-sumber primer dan sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa Anglikan lebih condong pada <em>Prima Scriptura</em>: Alkitab tetap menjadi pusat, namun ditafsirkan dalam terang tradisi apostolik dan akal budi. Pendekatan ini memberi ruang bagi fleksibilitas hermeneutis sekaligus menjaga kontinuitas dengan iman Gereja mula-mula. Implikasinya terlihat dalam liturgi, pengajaran, pastoral, serta dialog ekumenis. Dengan demikian, Anglikanisme menunjukkan keseimbangan antara kesetiaan pada Kitab Suci dan keterbukaan terhadap dinamika teologi kontemporer.</p> Raphael Adi Nugraha Buyung Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-01-30 2026-01-30 6 2 10.47596/sg.v6i2.437 PENDERITAAN AYUB: PRATRAGEDI, TRAGEDI DAN PASCAPEMULIHAN https://sttaletheia.ac.id/e-journal/index.php/solagratia/article/view/427 <p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em>The Book of Job is a book about suffering, centered on its main character, Job, a righteous man who experiences great suffering. Scholars generally discuss Job’s extraordinary pre-tragedy condition, the intense suffering after the tragedy, and the improved condition following God's restoration. However, scholars have paid less attention to Job’s suffering before the tragedy and after the restoration. Using a psychological approach, this article aims to complement previous studies by exploring Job’s suffering both before the tragedy and after his restoration. The author argues that even before the tragedy, Job had to endure a certain kind of hardship or suffering, as his "obsessional personality" made him an outsider within his own family and a loner. Job also found it difficult to gain true friends or companions because of his extraordinary success and wealth. The divine restoration at the end of the book does not free Job from suffering. The seven sons and three daughters granted to him as part of the restoration certainly cannot erase his memory about the children he lost in the previous tragedy. Likewise, the return of his brothers and acquaintances cannot erase Job’s feelings of pain from facing such a great tragedy in his solitude, as they had previously abandoned him. The study of Job’s life concludes that throughout human life, suffering is always present.</em></p><p> </p><p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p>Kitab Ayub adalah kitab tentang penderitaan dan dengan tokoh utamanya, yaitu Ayub, seorang saleh yang menderita. Para ahli umumnya membahas kondisi Ayub yang luar biasa pratragedi, penderitaan yang hebat pascatragedi dan kondisi yang lebih baik pascapemulihan Allah. Para ahli tidak atau kurang membahas topik penderitaan Ayub pratragedi dan pascapemulihan. Dengan bantuan pendekatan psikologis, artikel ini akan melengkapi penelitian sebelumnya, dengan membahas penderitaan Ayub pratragedi dan pasca pemulihan. Penulis berpendapat bahwa pratragedi pun Ayub dengan harus menanggung semacam kesulitan atau penderitaan, oleh karena dengan “obssesional personality” Ayub adalah “the outsider of his family and a loner.” Ayub juga sulit untuk mendapatkan teman atau sahabat yang sejati oleh karena kesuksesan dan kekayaannya yang luar biasa. Pemulihan Allah dalam bagian akhir kitab ini, tidak menyebabkan Ayub bebas dari penderitaan. Tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan yang dikaruniakan Allah sebagai bagian pemulihan, tentu tidak akan menghapus anak-anaknya yang meninggal dalam tragedi sebelumnya. Juga kembalinya para saudara dan kenalannya tentu tidak menghapus perasaan luka Ayub yang harus menghadapi tragedi yang hebat dalam kesendiriannya, oleh karena para saudara dan kenalannya meninggalkannya. Penelitian kehidupan Ayub memberikan kesimpulan bahwa sepanjang hidup manusia selalu ditemani dengan penderitaan.</p><p> </p> Sia Kok Sin Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-01-30 2026-01-30 6 2 10.47596/sg.v6i2.427 MENGHADAPI FENOMENA FLEXING CULTURE: KAJIAN INTERPRETATIF BERDASARKAN AMSAL 11:28 https://sttaletheia.ac.id/e-journal/index.php/solagratia/article/view/308 <p>Budaya <em>flexing </em>merupakan fenomena masa kini yang sementara berkembang di mana banyak anak muda sampai orang tua, dapat terjebak dalam <em>trend </em>ini. Sebagian besar perilaku <em>flexing</em> sangat berorientasi kepada memamerkan kekayaan secara berlebihan, bahkan ada orang yang sengaja membuat pencitraan agar terlihat kaya. Menariknya Amsal 11:28 secara jelas telah menulis tentang karakter yang mempercayakan diri kepada kekayaan akan berakibat kepada konsekuensi yang dialami, yakni mengalami kejatuhan. Pola karakter-konsekuensi merupakan pola struktur yang ada di dalam kitab Amsal yang memperhatikan adanya karakter yang dilakukan sehingga menghasilkan konsekuensi yang diterima. Belum ada penelitian yang membahas secara khusus tentang hal ini. Karena itulah, artikel ini akan membahas tentang bagaimana menghadapi gempuran budaya <em>flexing</em> berdasarkan peringatan Firman Tuhan lewat analisa pola perkataan karakter-konsekuensi dalam Amsal 11:28 dengan menggunakan metode kualitatif dengan sub <em>interpretative design</em> khususnya hermeneutika sastra hikmat. Penelitian ini menemukan bahwa <em>pertama, </em>mempercayakan diri kepada kekayaan adalah hal yang bodoh dan membawa kepada kejatuhan; <em>kedua, </em>kekayaan tidak bisa menjamin keberlangsungan hidup seseorang tetap baik dan tenteram; dan <em>ketiga, </em>menjadi orang benar (menaruh kepercayaan hanya kepada Tuhan) adalah kunci dari keberhasilan dan kesuksesan. Hasil penelitian ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang mau hidup dalam budaya <em>flexing</em> sehingga terhindar dari kejatuhan.</p><p> </p><p><em>The flexing culture is a growing contemporary phenomenon where many young and old people can get caught up in this trend. Most flexing behaviors are very much oriented towards excessive flaunting of wealth, and some people even deliberately create an image to look rich. Interestingly, Proverbs 11:28 clearly states that the act of trusting in wealth will result in the consequence of experiencing a fall. The action-consequence pattern is a structural pattern in the book of Proverbs that takes into account actions based on choices and decisions that result in consequences that will be received. There is no research that specifically discusses this. Therefore, this article will discuss how to deal with the onslaught of flexing culture based on the warning of God's Word through analyzing the pattern of action-consequence words in Proverbs 11:28 using qualitative methods with sub interpretative design, especially wisdom literature hermeneutics. This study found that first, trusting in wealth is foolish and leads to downfall; second, wealth cannot guarantee that one's life will remain good and peaceful; and third, being righteous (trusting only in God) is the key to success and success. The results of this study serve as a warning to anyone who wants to live in a flexing culture so as to avoid the fall.</em></p> Aska Aprilano Pattinaja Farel Yosua Sualang Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-01-30 2026-01-30 6 2 10.47596/sg.v6i2.308 RELASI IMAN DAN AKAL BUDI: RESPONS TEOLOGI KRISTEN TERHADAP TANTANGAN EPISTEMOLOGIS POSITIVISME COMTE https://sttaletheia.ac.id/e-journal/index.php/solagratia/article/view/356 <p>Keyakinan akan Allah Maha Kuasa merupakan fondasi utama dalam teologi Kristen yang menempatkan Allah sebagai pencipta, pengatur, dan penopang kehidupan. Namun, perkembangan filsafat modern, khususnya aliran positivisme yang digagas oleh Auguste Comte, menimbulkan tantangan signifikan terhadap legitimasi keyakinan teologis. Positivisme menolak pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, sehingga memandang konsep Allah sebagai sesuatu yang abstrak dan tidak valid dalam kerangka ilmiah. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana iman umat Kristiani dapat dipertahankan di tengah dominasi pandangan ilmiah-rasional yang mengesampingkan dimensi teologis. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data dikumpulkan dan dianalisis dari berbagai sumber literatur, seperti karya-karya teologi Kristen, tulisan-tulisan filsafat positivisme, serta penelitian relevan terkait hubungan antara iman dan akal budi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana konsep Allah Maha Kuasa tetap dapat dipertahankan secara teologis dalam konteks tantangan filsafat positivisme. Hasil kajian menunjukkan bahwa, meskipun positivisme menolak legitimasi kebenaran metafisik, konsep Allah dalam iman Kristen tetap dapat dijelaskan secara holistik melalui pendekatan teologis, rasional, dan etis, yang melampaui batasan metode empiris. Iman dan akal budi tidak harus dilihat sebagai dua hal yang saling bertentangan, melainkan sebagai dimensi yang saling melengkapi dalam memahami kebenaran.</p> Felix Riondi Sugar Copyright (c) 2026 SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 2026-01-30 2026-01-30 6 2 10.47596/sg.v6i2.356