ANALISA NARASI TENTANG RELASI DAUD DENGAN ABSALOM DALAM 2 SAMUEL 13-19

GUMULYA DJUHARTO

Abstract


Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud seharusnya dapat diselesaikan dan tidak makin melebar apabila Daud meneladani mentalitas Ahimaas yang bertindak bukan untuk memuaskan pribadi tertentu, atau bukan untuk mendapatkan keuntungan, atau bahkan bukan untuk mendapatkan posisi penting atau penghargaan orang lain melainkan kerinduan yang besar untuk menyatakan kebenaran yang bila semuanya ini dilakukan dengan bijaksana, dia akan menjadi pemimpin yang tidak pernah menggadaikan kebenaran yang diyakininya. Bahkan, dia berpotensi menjadi pemimpin yang menjadi agen perubahan bagi orang-orang dan lingkungan sekitarnya.
 
Kata kunci :  Relasi orang tua dengan anak, Sisi melankolis dan   kolerik Daud, Kepemimpinan Daud, Kebijaksanaan

Full Text:

PDF

References


Anne Apple, “The Rape of Tamar,” dalam Journal for Preachers 36/2 (Lent 2013) 38.

Andrew E. Hill, “A Jonadab Connection in the Absalom Conspiracy?” dalam JETS 30/4 (December 1987), 389.

Claudia V. Camp, “The Wise Women of 2 Samuel: A Role Model for Women in Early Israel? dalam CBQ 43/1 (January 1981),

Conroy, yang dikutip oleh P. Kyle McCarter, Jr., “Plots, True or False” dalam Interpretation 35/4 (Oktober 1981) 363

David Daube, “Absalom and The Ideal King”, dalam Vetus Testamentum 48/3 (Juli 1998) 317,

David R. Bauer dan Robert A. Traina, Inductive Bible Study (Grand Rapids, MI: Baker, 2011) 146.

Diane Jacobson, “Remembering Tamar,” dalam Word & World 24/4 (Fall 2004) 355.

Holladay, 63.

Jacobson, 355.

Kevin J. Conner dan Ken Malmin, Interpreting the Scriptures (Terj. Emma Maspaitella; Malang: Gandum Mas, 2004) 113.

Longman III, 148.

P. Jouon dan T. Muraoka, A Grammar of Biblical Hebrew (Roma, Italia: GBP, 2006), 322.

Robert Alter, The David Story: A Translation with Commentary of 1 and 2 Samuel (New York, NY: W. W. Norton, 1999), 270,

Stuart Macwilliam, “ Ideologies of Male Beauty and the Hebrew Bible ”, in Biblical Interpretation 17 (2009) 265, 282, 285.

T. Kronholm, “xd;n",” dalam Theological Dictionary of the Old Testament, vol. IX (eds. G. Johannes Botterweck, Helmer Ringgren, dan Heinz-Josef Fabry; Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1998), 237.

William L. Holladay, A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1988) 118.




DOI: https://doi.org/10.47596/solagratia.v3i1.32

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



SOLA GRATIA diindeks oleh:


Published: Sekolah Tinggi Teologi Aletheia
Address: Aletheia Theological College, Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65211
Website E-Jurnal: http://sttaletheia.ac.id/e-journal/index.php/solagratia/index
e-ISSN 2723-2794, p-ISSN 2723-2786 Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.
Copyright © SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika. All Rights Reserved.