“KAU BUKAN SEPERTI YANG DULU LAGI’ : SEBUAH REFLEKSI TEOLOGIS-ETIS PERCERAIAN

  • AMOS WINARTO SEKOLAH TINGGI TEOLOGI ALETHEIA

Abstract

 Artikel ini bertujuan meninjau secara teologis-etis perceraian.Secara khusus di dalam Perjanjian Baru ada bagian yang menunjukkan bahwa perceraian itu diijinkan. Bagaimana kita menyikapi hal demikian? Apakah ada pertentangan dalam Alkitab? Bukankah dikatakan TUHAN itu membenci perceraian? Namun mengapa Yesus dan Paulus sepertinya mengijinkan perceraian? Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya akan menganalisa Matius 5:32 (lihat juga Matius 19:9) dan 1 Korintus 7:15. Dari analisa itu saya akan menunjukkan bahwa TUHAN melarang orang Kristen ketika masih hidup untuk bercerai apapun alasannya dan kalaupun perceraian tetap terjadi itu adalah karenadua alasan berikut. Pertama, perceraian bisa terjadi karena untuk melindungi nyawa pihak yang melakukan perzinahan dari hukuman mati. Kedua, perceraian bisa terjadi karena yang menceraikan adalah suami atau isteri bukan Kristen.Kata kunci: pernikahan, perceraian, perzinahan, hukuman mati

References

Carson, D. A. "Matthew", dalam The Expositor's Bible Commentary, Volume 8: Matthew, Mark, Luke, ed. Frank E. Gaebelein. Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1984.

House, H. Wayne, ed. Divorce and Remarriage: Four Christian Views. Downers Grove: InterVarsitiy Press, 1990.

Hill, David. “A Note on Matthew i. 19,” Expository Times 76 (January 1965) no. 4: 132–34.

Tosato, A. “Joseph, Being a Just Man (Matt 1:19),” Catholic Biblical Quarterly 41 (1979): 547-51.

Hurley, James B. Man and Woman in Biblical Perspective. Leicester: InterVarsity Press, 1981.

Agustinus, “De adulterinis conjugiis” (419-420 AD) dalam Corpus Scripturom Ecclesiasticorum Latinorum 41, ed. J. Zycha. Vienna: Tempsky, 1900: 347-410. Terjemahan bahasa Inggris: “On Adulterous Marriages,” dalam The Works of Saint Augustine: A stT ranslation for the 21 Century, ed. J. E. Rotelle. New York: New York City Press, 1999: 144-87.

Published
2020-02-03
Section
Articles