Musik masa kini, dunia virtualitas, dan industri komersial nampak berjalan sangat selaras. Ketiga aspek tersebut sangat mudah diterima oleh masyarakat, mempengaruhi masyarakat dan sebaliknya juga dipengaruhi oleh masyarakat.

Saat pandemi kali ini terjadi, tampak begitu banyak gereja dan berbagai komunitas Kristen sangat antusias memanfaatkan teknologi serta menyelam dalam dunia virtualitas. Dan tujuan musik virtual di masa pandemi berubah esensi yaitu menjadi: Pengisi waktu, iringan ibadah online, sebagai wadah pelayanan, sebagai pengalaman baru, sebagai ekspansi pelayanan, dan menyiasati physical distancing.

Dan melalui webinar dengan tema Musik & Virtualitas yang merupakan sesi keenam atau terakhir dalam Aletheia Courses in Theology, Ev. Yunus Sutandio, M.C.M. banyak memberikan contoh dan memberikan wawasan baru dalam industri musik rohani khususnya dalam masa pandemi covid-19.

Webinar kali ini yang diadakan pada tanggal 09 Juli 2020 telah menarik minat para peserta untuk menggali lebih dalam terutama peranan musik gereja dalam masa pandemi ini. Ini terlihat dalam antusiasme peserta hingga akhir acara.

Untuk selanjutnya, sebagai follow up acara webinar Aletheia Courses in Theology 2020 akan diadakan acara ACT: SPEAKERS INSIGHTS pada hari KAMIS 30 JULI 2020, pkl. 16.00-18.00 WIB dengan menghadirkan semua pembicara selama sesi 1 hingga sesi 6. Sebuah acara webinar yang dikemas dalam sesi tanya jawab dan merupakan kesimpulan dari semua sesi Aletheia Courses in Theology (ACT) 2020.

Link Pendaftaran bisa diakses di SINI

Epidemi dan Pandemi adalah 2 kata yang saat ini sedang nge-tren di dunia. Dua kata ini menjadi terkenal akibat dari mewabahnya Covid-19 di dunia termasuk di Indonesia. Dalam deskripsinya Epidemi adalah penyebaran penyakit menular yang menyerang wilayah tertentu secara cepat dengan jumlah korban yang banyak, sedangkan Pandemi adalah penyebaran penyakit nasional yang bersifat trans nasional yang dapat mempengaruhi seluruh dunia dan membunuh banyak orang. Kesimpulannya, Pandemi merupakan epidemi yang tersebar secara luas dan masif.

Dalam sejarahnya, epidemi dan pandemi telah menjadi seperti “sahabat” bagi manusia di bumi ini. Banyak contoh yang telah terjadi dan dapat menjadi pembelajaran di masa lalu tentang epidemi, pandemi, dan tanggapan gereja terkait wabah ini.

Hal-hal di atas telah dibahas secara rinci oleh Pdt. Mariani Febriana Lere Dawa, Th.M. dalam webinar STT Aletehia, yaitu Aletheia Courses in Theology (ACT) 2020 dengan tema Sejarah dan Pandemi yang diselenggarakan pada tanggal 2 Juli 2020.

Dalam kesimpulannya, Pdt. Mariani menekankan bahwa pandemi mengajarkan banyak hal kepada gereja dan sekaligus membuka peluang-peluang berharga dalam melayani apalagi di tengah kemajuan teknologi modern ini. Penguatan dan pendampingan kepada umat dalam kondisi wabah ini menjadi perhatian serius dari para pelayan sepanjang sejarah dan pembelajaran secara historis menolong kita untuk sekali lagi untuk berbenah diri dalam kapasitas kita masing-masing.

Melalui webinar ini, para peserta merasa sangat diberkati dengan penjelasan yang mudah dimengerti dan mudah dipraktikkan oleh pelayan Tuhan. Terima kasih juga untuk host kali ini, Pdt. Linus Baito, M.Th. dan tim multi media yang telah mempersiapkan webinar ini. Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita semua. Soli Deo Gloria dan sampai jumpa di webinar ACT 2020 sesi terakhir pada tanggal 9 Juli 2020 dengan tema Musik & Virtualitas oleh Ev. Yunus Sutandio Tan, M.C.M.

Bahan webinar ACT sesi ke-6 dengan tema Sejarah dan Pandemi bisa diakses di SINI

Aletheia Courses in Theology (ACT) sesi 4 telah sukses diselenggarakan STT Aletheia pada tanggal 25 Juni 2020 jam 16.00-selesai. ACT sesi 4 yang bertema Konseling dan Pandemi: Peran Konseling Pastoral di Masa Pandemi Covid-19 kali ini menghadirkan nara sumber yang kompatibel di bidang Konseling Pastoral , yaitu Pdt. Dr. Totok S. Wiryasaputra, M.Th. (Pendiri AKPI–Asosiasi Konselor Pastoral Indonesia) dan Pdt. Marthen Nainupu, M.Th. (Dosen Konseling Pastoral STT Aletheia Lawang).

Covid-19 merupakan “silent revolution” yang super dahsyat dan super cepat, berdampak luas, menyentuh semua aspek kehidupan manusia karena covid-19 yang pada awalnya hanya masalah kesehatan fisik menjadi bergeser ke masalah psikologis dan berlanjut ke masalah sosial dan spiritual.

Oleh karena itu, sebagai salah satu pelayanan di gereja, konseling pastoral menjadi penting terutama dalam memberi pendampingan bagi jemaat di masa-masa sulit ini. Gereja dapat dan harus mengembangkan pola-pola pelayanan yang lebih relevan sesuai dengan kebutuhan jemaatnya saat ini.

Kedua nara sumber banyak menyoroti isu-isu terkini dan memberikan beberapa contoh terbaru dala pelayan konseling pastoral yang cocok dengan gereja di Indonesia, seperti misalnya Konseling Pastoral dengan pendekatan (REBT) Rasional Emotive Behaviour Therapy dan memberikan tips-tips khusus menjadi pelayan Konseling Pastoral yang baik.

Peserta ACT sesi 4 kali ini sangat diberkati dan mendapatkan gairah baru dalam memberikan pendampingan bagi jemaat terutama dalam menerapkan strategi-strategi dalam konseling pastoral yang tepat guna di Indonesia.

Sampai jumpa di Aletheia Courses in Theology (ACT) sesi 5 bertema Sejarah dan Pandemi dengan pembicara yang juga sangat berkompeten yaitu Pdt. Mariani Febriana Lere Dawa, Th.M. yang diselenggarakan pada 02 Juli 2020.

Materi Konseling & Pandemi dapat diakses di SINI

Aletheia Courses in Theology (ACT) 2020 telah memasuki sesi ke-3 dengan tema Agama, Sains, dan Wabah Penyakit dan pembicara dalam ACT 2020 sesi ke-3 kali ini adalah Pdt. Markus Dominggus Lere Dawa, DSA. Dibanding dua sesi yang lalu, sesi kali ini lebih berwawasan umum dan global bagi umat manusia.

Pdt. Markus banyak menyoroti perbandingan pandangan di antara agama dan sains dalam melihat pandemi covid-19 kali ini. Ternyata bahwa zaman dahulu pernah terjadi wabah sepeti sekarang ini, yang dikenal dengan nama Maut Hitam (Yersinia Pestis). Wabah ini juga disebabkan oleh hewan, yaitu tikus.

Zaman dulu ketika agama masih menjadi kiblat atas setiap peristiwa, wabah Maut Hitam ditafsirkan sebagai murka dan hukuman Allah atas keberdosaan manusia. Dan untuk mengatasi wabah ini, agama Kristen yang kala itu banyak dianut orang Eropa menganjurkan pertobatan massal dengan cara menentramkan murka Allah, menghukum orang-orang yang dianggap berdosa, dan memperbanyak kegiatan-kegiatan agamawi seperti doa dan babtisan.

Pada ACT sesi ke-3 yang diselenggarakan pada hari Kamis 18 Juni 2020 jam 16.00-selesai kali ini, Pdt. Markus juga membahas tentang efek wabah Maut Hitam tersebut yang antara lain adalah gereja dianggap gagal dalam memberikan penghiburan dan gagal memberikan pendampingan/dukungan kepada jemaat yang menyebabkan jemaat menempuh jalannya sendiri untuk mendapatkan keselamatan; bahkan di agama lain ada yang terjerumus dalam sihir, jimat, dan mantra-mantra.

Dengan melihat sedemikian besar efek wabah yang pernah terjadi, Pdt. Markus mendorong agar gereja lebih berperan aktif dalam membantu kesulitan jemaatnya, misalnya menyediakan program bantuan sembako bagi yang membutuhkan, membantu jemaat yang kesulitan mengakses kesehatan dengan cara memberikan pendampingan ketika berobat terutama ketika jemaat tersebut terindikasi covid-19 dan bukan justru takut dan mengucilkan jemaat tersebut.

Kiranya melalui webinar ACT sesi ke-3, kita diberkati dengan pemahaman dan pengetahuan baru tentang apa yang harus dilakukan terutama dalam masa pandemi covid-19 ini. Tuhan memberkati pelayanan kita.

Materi Agama, Sains, dan Wabah Penyakit dapat diakses di SINI

STT Aletheia telah mengadakan even di tengah pandemi Covid-19 yaitu Aletheia Courses in Theology (ACT) 2020. Dan kali ini ACT telah memasuki sesi 2 dengan tema Etika dan Theodicy: Iman Kristen & Pandemi. Sebagai pembicara adalah Pdt. Amos Winarto, Ph.D (beliau adalah Dosen Tetap yang mengajar mata kuliah Etika dan Penggembalaan di samping juga sebagai Wakil Ketua 3 bidang Kemahasiswaan di STT Aletheia Lawang) dan untuk ACT sesi kedua ini yang bertugas sebagai host adalah Pdt. Linus Baito, M.Th.

Dalam bahasan kali ini, Pdt. Amos banyak memberikan pemahaman baru tentang orang Kristen di tengah pandemi dipandang dari sudut Theodicy/keadilan Tuhan. Banyak pertanyaan di tengah masyarakat, misalnya Jika Allah Mahakuasa, mengapa Allah tidak menghentikan kejahatan? Atau Jika Allah Mahabaik, mengapa Ia membiarkan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sering kita jumpai di saat kita mengalami ketidakadilan di tengah masyarakat. Dan pertanyaan tersebut bisa terjawab dengan menerapkan etika Kristen (Ilmu tentang yang benar dan yang baik menurut iman Kristen), yaitu dengan berpikir benar sesuai Firman Tuhan yang bukan hanya sekedar mencari tahu tapi juga belajar mengalami Tuhan, dan bahkan membagikannya kepada orang lain.

Melalui ACT 2 kali ini, diharapkan bahwa 200 lebih peserta webinar online yang berasal dari berbagai kalangan denominasi gereja, hamba Tuhan, jemaat awam, dan kalangan akademisi Kristen, mempunyai pola pikir yang diubahkan dalam memandang dan menghadapi penderitaan di tengah pandemi Covid-19 ini dengan menerapkan Etika Kristen.

Sampai bertemu kembali dalam sesi III yang bertema Agama, Sains, & Wabah Penyakit dengan pembicara Pdt. Markus Dominggus Lere Dawa, DSA. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Materi Etika & Teodicy dapat diakses di SINI

STT Aletheia telah mengadakan ssei pertama kelas Aletheia Courses in Theology dengan tema Mazmur dan Pandemi dengan pembicara Pdt. Sia Kok Sin, D.Th. dan host oleh Pdt. Linus Baito, M.Th.

Pdt. Sia dalam kaitan antara Mazmur dan Pandemi menitikberatkan pada Mazmur 91 yang telah memberikan gambaran bahwa penulis Mazmur pernah mengalami kesulitan yang sama seperti sekarang ini. Mazmur 91 bergenre Mazmur Keyakinan yang berarti pemazmur yakin akan perlindungan Tuhan dari pelbagai mara bahaya.

Dua pertanyaan yang timbul dari kacamata Mazmur 91 adalah bolehkah kita mengeluh? dan Bolehkah kita bertanya kepada Tuhan? Jawabannya adalah Pdt. Sia merujuk pada Mazmur Keluhan (Mazmur 6) yang mana pemazmur tetap mempunyai keyakinan yang kokoh kepada Tuhan dan penyakitnya tidak akan mempengaruhi hidupnya lagi.

Dalam sesi pertama ini, Pdt. Sia juga mengajarkan bahwa untuk memahami kitab Mazmur, kita harus bisa:

  • 1. Mengidentifikasi genre (jenis/bentuk) mazmur
  • 2. Mengidentifikasi dan memahami paralelisme
  • 3. Memahami gambaran (imageri)

Dalam kesempatan ini juga Pdt. Joni Stephen diberikan kesempatan untuk bersaksi ketika beliau dinyatakan positif covid-19, diisolasi oleh tenaga medis, dan dinyatakan sembuh. Pdt. Joni sampai saat ini tetap melayani sebagai gembala sidang Gereja Indonesian Presbyterian Church Randwick Sydney Australia.

Atas pelayanan dan kesaksian dalam sesi pertama Aletheia Courses in Theology. Tuhan Yesus memberkati.

Materi Mazmur dan Pandemi dapat diakses di SINI

Masih dalam suasana pandemi covid-19 dan patuh pada anjuran pemerintah untuk tetap physical distancing, maka pada hari Rabu tanggal 13 Mei 2020 pkl. 18.30-20.00 wib STT Aletheia bekerjasama dengan Komisi Wanita GKT III Malang telah mengadakan Seminar secara online dengan aplikasi ZOOM dan Facebook streaming dengan tema Win From Home: Rahasia Kemenangan Dari Rumah dengan pembicara Ibu Indayati Oetomo (International Director John Robert Powers).

Ibu Indayani menyampaikan beberapa hal positif yang diakibatkan oleh pandemi ini, antara lain: Rekonsiliasi Hubungan Keluarga, Saatnya memberikan apresiasi atas tugas keseharian masing-masing anggota keluarga, saatnya memahami bahwa tidak ada yang sempurna.

Peserta acara ini diikuti dari berbagai gereja yang berjumlah kurang lebih 100 orang. Dan bertindak sebagai host adalah Pdt. Linus Baito, M.Th. dibantu oleh tim multi media STT Aletheia. Terima kasih untuk kerjasamanya. Tuhan memberkati pelayanan kita.

Sebagai tambahan bahwa untuk ke depannya STT Aletheia akan terus mengagendakan seminar atau acara secara online.

Suasana interaktif Seminar secara online dengan tema Win From Home

Masih dalam suasana pandemi covid-19 dan mematuhi anjuran pemerintah untuk tetap dalam posisi physical distancing, maka pada hari Senin tanggal 04 Mei 2020 pkl. 10.00-12.00 wib STT Aletheia telah mengadakan Seminar secara online dengan aplikasi ZOOM dan Facebook streaming Talk Show dengan nara sumber Dr. dr. Hanna Tri Maharani, Msi. SpEM dari RS Sulianti Saroso Jakarta.

Ibu Hanna adalah salah satu dokter spesialis yang bertugas di garda terdepan melawan virus Covid-19. Melalui online talk show ini beliau banyak membagikan cerita terkait pasien dan penanganannya di RS Sulianto Saroso Jakarta, dan terlibat langsung dalam upaya perlawanan terhadap virus mematikan ini. Beliau juga membagikan tips aman di masa ini serta menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta terkait pandemi ini.

Bertindak sebagai host adalah Pdt. Dr. Agung Gunawan, Th.M., dan Pdt. Linus Baito, Th.M. beserta tim multi media. Terima kasih untuk kerjasama dan dedikasinya dalam pelayanan ini. Tuhan Yesus memberkati.

Dan untuk ke depannya STT Aletheia akan terus mengagendakan seminar atau acara secara online.

Pada tanggal 16-19 Maret 2020 Program Studi Pasca Sarjana Magister Teologi STT Aletheia telah menyelenggarakan Kuliah Padat dengan tema Isu-isu Kontemporer Studi Biblika dengan dosen tamu dari STT SAAT Malang yaitu Pdt. Dr. Andreas Hauw. Beliau banyak membagikan pengalaman beliau selama melayani di ladang pelayanan yang dipandang dari sudut Teologi Biblika Kontemporer. Kuliah Padat kali ini khusus diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pasca Sarjana Magister Teologi STT Aletheia yang sangat antusias mengikuti kuliah padat tersebut.

Pada tanggal 17 Maret 2020 Program Studi Pasca Sarjana Magister Teologi STT Aletheia telah mengadakan Ujian Proposal Tesis untuk Hendra Stiya Budi dengan judul Penyelidikan Tokoh Rut dalam Kitab Rut untuk Memberikan Pemahaman Perilaku yang Bijak Bagi Etnis Tionghoa − Kristen di Indonesia dan Januar Hadi dengan judul Pengelolaan Harta Benda Menurut John Calvin untuk Memberi Pengertian Bagi Orang Kristen Masa Kini dalam Mengelola Kekayaan. Sebagai penguji keduanya adalah Pdt. Sia Kok Sin, D.Th., Pdt. Amos Winarto, Ph.D., dan Pdt. Alfius Areng Mutak, Ed.D.
Ujian Proposal Tesis diadakan di ruang Paulus yang dimulai jam 10.30-12.30 wib. Dan hasil dari ujian Proposal Tesis ini adalah Hendra Stiya Budi dinyatakan LULUS dan diminta melanjutkan penyusunan tesis dengan pembimbing Pdt. Sia Kok Sin, D.Th. dan Januar Hadi juga dinyatakan LULUS dengan pebimbing tesis adalah Pdt. Amos Winarto, Ph.D. Selamat dan sukses untuk keduanya.
Ujian Proposal Hendra dan Januar